Latest Entries »


Gaya Indische jadi ikon bangunan Kampoeng Batik Laweyan

Kawasan Laweyan selama ini dikenal sebagai kawasan yang unik. Apa yang menjadi ciri khas kawasan Laweyan? Selain sebagai salah satu sentra industri barik, kawasan Laweyan juga terdapat rumah-rumah besar berarsitektur indah dengan tembok tinggi yang mengelilinginya.

Ternyata, di balik tembok-tembok tinggi dan rumah-rumah besar itu terdapat berbagai paduan seni arsitektur yang menjadikan bangunan-bangunan di Laweyan unik.

Dalam pengamatan M Muqoffa, dosen Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, rumah-rumah di Laweyan, khususnya rumah yang dimiliki para juragan batik menunjukkan perpaduan arsitektur dari berbagai gaya asing.

”Memang booming industri batik di Laweyan di abad ke-19 dan awal abad ke-20 memberikan keuntungan ekonomi yang luar biasa buat para pelaku bisnis batik,” kata Muqoffa saat dijumpai Espos beberapa waktu lalu.
”Nah keadaan seperti ini menyebabkan masyarakat Laweyan itu punya posisi sosial ekonomi yang lebih baik. Itu menyebabkan mereka punya kemampuan membangun rumahnya sebagaimana keinginan,” terang alumnus UNS yang kini tengah menempuh studi doktoral bidang sejarah arsitektur di ITS Surabaya ini.

”Karena para juragan batik itu sudah mampu berdagang ke luar negeri terutama ke Eropa, mereka jadi punya wawasan mengenai arsitektur luar negeri. Wawasan itu lantas diterapkan untuk rumah-rumah mereka,” kata Muqoffa pula.

Hal ini terlihat dari penggunaan kaca patri, corak jendela, pintu dan hiasan-hiasan lainnya. ”Kalau dari kajian arsitektur bisa diterangkan bahwa rumah-rumah di sana itu punya langgam atau style art deco, Indische atau bahkan ada beberapa yang mengacu ke gaya-gaya klasik.”
Pendapat ini disepakati oleh pengusaha batik yang juga pegiat Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono.
”Dengan penghasilannya yang luar biasa para pengusaha batik itu akhirnya punya keinginan menambah eksistensi dirinya antara lain dengan mengubah bangunan rumahnya,” katanya.

Upaya mempercantik bangunan rumah yang diistilahkan Alpha sebagai sebuah euforia ini paling banyak mengadopsi gaya Indische atau perpaduan gaya Eropa dan Jawa. ”Gaya Indische bisa dibilang menjadi ikon bangunan Laweyan,” tegas Alpha.

Motif geometris

Selain itu, lanjut Alpha, gaya arsitektur Islam juga banyak diadopsi di Laweyan. ”Contohnya seperti motif-motif geometris pada lantai. Ini karena orang-orang Laweyan juga sudah banyak yang ke Timur Tengah sehingga banyak ciri khas di sana yang diaplikasikan di sini,” katanya. Pengaruh China menurut Alpha juga bisa dijumpai.

Meski begitu, gaya arsitektur Jawa ternyata tidak ditinggalkan begitu saja. Konsep rumah Jawa yang terdiri atas bagian-bagian berupa pendapa, pringgitan, dalem, senthong dan sebagainya masih dipertahankan. ”Secara fisik bentuknya seolah-olah seperti bangunan yang bukan Jawa karena sudah mengadopsi gaya asing. Tapi secara konseptual itu masih bisa disebut sebagai bangunan Jawa,” tambah Muqoffa. Gebyog atau penyekat ruangan dari kayu yang biasanya dihiasi ukiran halus juga bisa dijumpai di banyak rumah.

Aktivitas industri batik juga mempengaruhi tata letak ruang rumah. ”Rumah Laweyan itu pasti punya bagian yang berfungsi sebagai tempat untuk proses produksi batik,” kata Muqoffa.

Ciri khas lain adalah tembok tinggi mirip benteng yang menyembunyikan pandangan ke dalam kompleks bangunan. Selain berfungsi sebagai pengaman dari adanya pelaku tindak kriminal, tembok ini juga mencegah orang-orang yang mungkin berniat mematai-matai atau mencuri desain eksklusif batik. Di sisi lain, terdapat pintu tembusan atau butulan yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lain. Bahkan Muqoffa dan Alpha menyebut butulan ini ada yang berupa jalan rahasia di bawah tanah. ”Pintu butulan ini tidak ditemukan di wilayah lain,” kata Muqoffa.

Adanya pintu penghubung ini menunjukkan kekerabatan di antara para penghuni kawasan Laweyan. Sementara menurut Alpha, keberadaan pintu rahasia bawah tanah dimanfaatkan saat masa perjuangan kemerdekaan. ”Kabarnya di masa itu pintu rahasia itu dipakai untuk menghindarkan diri dari operasi keamanan Pemerintah Belanda.”

Kondisi Sekarang

Kekayaan dan keunikan kawasan Laweyan seperti yang diwakili oleh arsitektur bangunan-bangunan yang ada di dalamnya jelas perlu dilestarikan.

Meski kawasan Laweyan sudah diakui sebagai kawasan warisan budaya atau heritage, bukan berarti status ini bisa secara otomatis melindungi kawasan itu dari gerusan peradaban modern.

Lihat saja, di sepanjang Jalan dr Radjiman sudah banyak bangunan-bangunan berarsitektur modern menggantikan kekekaran bangunan-bangunan kuno. Sejumlah bangunan kuno juga sudah tampak lapuk dan bahkan sudah roboh akibat gerusan usia dan ketiadaan tangan yang mampu merawat.

————————–

————–SAVE OUR HERITAGE————————————–

* Oleh : R Bambang Aris Sasangka, edited : Batik Putra Laweyan
* Sumber: solopos.co.id

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


Go Tik Swan (umumnya dikenal dengan nama K.R.T. Hardjonagoro; lahir pada 11 Mei 1931) adalah seorang budayawan dan sastrawan Indonesia yang menetap di Surakarta. Ia dilahirkan sebagai putra sulung keluarga Tionghoa di kota Solo (Surakarta). Karena kedua orangtuanya sibuk dengan usaha mereka, Tik Swan diasuh oleh kakeknya dari pihak ibu, Tjan Khay Sing, seorang pengusaha batik di Solo. Ia mempunyai empat tempat pembatikan: dua di Kratonan, satu di Ngapenan, dan satu lagi di Kestalan, dengan karyawan sekitar 1.000 orang.

Sejak kecil Tik Swan biasa bermain di antara para tukang cap, dengan anak-anak yang membersihkan malam dari kain, dan mencucinya, mereka yang membubuhkan warna coklat dari kulit pohon soga, dan orang-orang yang menulisi kain dengan canting.
Ia juga senang mendengarkan mereka menembang dan mendongeng tentang Dewi Sri dan berbagai cerita tradisional Jawa. Dari mereka ia belajar mengenal mocopat, pedalangan, gending, Hanacaraka, dan tarian Jawa.

Tik Swan dikirim bersekolah di Neutrale Europesche Lagere School bersama warga kraton, anak-anak ningrat, anak-anak pemuka masyarakat, dan anak-anak pembesar Belanda. Ini disebabkan karena kedua orangtuanya adalah keturunan pemuka masyarakat Tionghoa pada saat itu. Ayahnya adalah cucu dari Luitenant der Chinezen di Boyolali sedangkan ibunya cucu Luitenant der Chinezen dari Surakarta.

Tidak jauh dari rumah kakeknya, tinggallah Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X, seorang indolog lulusan Universitas Leiden dan juga penari Jawa klasik. Di rumah sang pangeran selalu diadakan latihan tari yang sejak awal sudah mempesona Tik Swan. Sementara itu Pangeran Prabuwinoto membangkitkan minat Go Tik Swan pada karawitan Jawa.

Telanjur sayang
Seusai perang, Tik Swan belajar di MULO di Semarang. Lulus dari VHO Voortgezet Hooger Onderwijs (VHO) di Semarang, orangtuanya ingin ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun ia sudah telanjur sayang dan jatuh cinta pada kebudayaan Jawa.

“Saya diam-diam masuk jurusan Sastra Jawa di Fakultas Sastra UI. Ketika ayah tahu, beliau khawatir saya tidak bisa mencari nafkah yang memadai dengan memilih bidang itu,” ceritanya.

Di Fakultas Sastra, ada dua pengajar yang dianggapnya berpengaruh besar terhadapnya Profesor Dr. Tjan Tjoe Siem, seorang ahli sastra Jawa lulusan Leiden yang berasal dari Solo dan Profesor Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka, seorang otodidak yang legendaris.

Menarik perhatian Soekarno
Ketika belajar di Jakarta, Tik Swan sering berkunjung ke rumah Prof. Poerbatjaraka dan berlatih menari Jawa di sana. Dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia ia bersama rombongannya diundang menari di istana. Tariannya sempat membuat Presiden Soekarno sangat terkesan karena Tik Swan memang menari dengan sangat bagus, sementara boleh dikatakan tidak ada keturunan Tionghoa yang tertarik untuk menari Jawa. Tik Swan pun saat itu sudah menggunakan nama Hardjono.

Pelopor Batik Indonesia
Ketika mengetahui bahwa keluarga Go Tik Swan Hardjono sudah turun-temurun mengusahakan batik, Soekarno menyarankan agar ia menciptakan “Batik Indonesia”. Ia tergugah, lalu pulang ke Solo untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan falsafahnya.

Hubungannya yang akrab dengan keluarga kraton Solo memungkinkan Tik Swan Hardjono belajar langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Pola-pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum maupun pola-pola tradisional lain digalinya dan dikembangkannya tanpa menghilangkan ciri dan maknanya yang hakiki.

Pola yang sudah dikembangkan itu diberinya warna-warna baru yang cerah, bukan hanya coklat, biru dan putih kekuningan seperti yang lazim dijumpai pada batik Solo-Yogya. Lahirlah yang disebut “Batik Indonesia”.

Saat itu warna-warna cerah cuma dipakai pada batik Pekalongan, namun motif batik Pekalongan kebanyakan buketan (karangan bunga aneka warna) yang berbeda sekali dari motif batik Vorstenlanden (Solo dan Yogya) yang biasanya sarat makna.

* Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


Pada zaman dahulu, pembuatan batik yang pada tahap pembatikannya hanya dikerjakan oleh putri-putri dilingkungan kraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa dengan dilandasi permohonan, petunjuk, dan Rido Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya ragam hias wastra batik senantiasa menyembulkan keindahan abadi dan mengandung nilai-nilai perlambang yang berkait erat dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, dan penghargaan yang dimilikinya.

Dalam Forum “Roundtable On Museum Textile” di Washington D.C. pada tahun 1979, K.P.T Hardjonagoro mengisahkan proses penciptaan ragam hias truntum karya Kanjeng Ratu Beruk, permaisuri Sri Susuhunan Paku Buwono III. Dalam kesedihan dan keprihatinan yang sangat dalam karena tidak lagi memperoleh cinta kasih Sri Baginda, Kanjeng Ratu Beruk menciptakan suatu pola batik dengan disertai doa dan permohonan rahmat kepada Sang Pencipta agar Sri Baginda kembali mencintainya. Doa Permaisuri terkabul. Pada suatu hari Sri Susuhunan hadir ditempat permaisuri membatik. Kehadiran Sri Baginda ternyata diikuti oleh kehadiran Sri Baginda pada hari-hari berikutnya. Setelah menyaksikan hasil akhir wastra batik karya permaisuri, Sri Baginda memanggil Kanjeng Ratu Beruk kembali ke Istana. Permaisuri mengabadikan peristiwa “kembali tumbuhnya cinta kasih Sri Baginda” dan “kembali berkumpulnya Sri Baginda-Permaisuri” dangan memberi nama truntum pada ragam hias batik karyanya yang memang belum diberi nama itu. secara harafiah truntum berarti timbul atau berkumpul.

* Sumber : Buku “Batik Pengaruh zaman dan lingkungan”Penerbit Danar Hadi.Penulis H.Santosa Doellah

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merawat batik agar warna dan corak batik tetap terjaga, diantaranya adalah sebagai berikut :

I. Batik dengan bahan Sutra

  1. Cara pencucian batik berbahan sutra jangan menggunakan mesin cuci, sebaiknya mencucinya dengan menggunakan tangan. Kalaupun ingin di Laundry sebaiknya menggunkan dry cleaning.
  2. Bila pencucian batik dengan menggunakan tangan sebaiknya jangan terlalu keras atau banyak dikucek.
  3. Penggunaan deterjen yang terlalu banyak akan merusak warna batik, jadi sebaiknya menggunakan deterjen khusus untuk bahan sutra atau untuk hasil lebih maksimal dapat meggunakan Lerak (pencuci batik).
  4. Pada saat menjemur batik sebaiknya hindari sorotan sinar matahari langsung. Jemur ditempat yang sejuk atau teduk.

II. Batik dengan bahan Cotton

  1. Cara pencucian batik berbahan cotton cukup dicelupkan atau direndam saja, jangan terlalu banyak dikucek.
  2. Untuk hasil maksimal, waktu pencucian jangan terlalu banyak deterjen atau sebaiknya menggunakan sabun khusus batik ( Lerak ).
  3. Pada saat menjemur batik sebaiknya hindari sorotan sinar matahari langsung, Jemur ditempat yang sejuk atau teduh.

III. Gambaran Umum

Penyimpanan batik Lama atau Tua biasanya kain panjang ( jarik ) kuno cara pelipatan juga harus diperhatikan, jangan terlalu lama dilipat disimpan dalam lipatan yang sama. Jika disimpan dalam almari jangan terlalu lama, sebaiknya dalam jangka waktu tertentu ( 1 bulan sekali ) diangin-anginkan. Pencucian batik sebaiknya menggunakan sabun pencuci batik tradisional yaitu Lerak, bisa juga menggunakan Lerak yang masih dalam bentuk cair atau yang masih dalam bentuk buah bijian dan sebaiknya menggunakan air suam-suam kuku. Pada saat penjemuran batik sebaiknya diangin-anginkan saja ditempat yang sejuk dan teduk, dan jangan sampai terkena sinar matahari langsung.

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


Mengenahi pertanyaan tentang asal mula seni batik banyak versi yang mngatakan mengenahi asal muasalnya. Situs mengenaii batik ada banyak kita peroleh pada wikipedia ataupun lainnya. Versi pertama bahwa batik berasal dari luar Indonesia yaitu srilangka, gujarad, dan afrika selatan yang disebarkan lewat perdagangan ke seluruh asia termasuk Indonesia. Versi kedua adalah batik berasal dari Indonesia asli. Pendapat ini diperkuat oleh penelitian dari Soeharto dkk, dalam buku Indonesia Indah “Batik” (BP3) yaitu berawal dari penemuan situs-situs ragam hias atau pelukisan di dinding-dinding gua. Ragam hias ini banyak ditemukan di gua-gua pedalaman Kalimantan berupa ragam hias atau pelukisan gambar manusia, hewan, dan yang paling banyak adalah gambar terentang telapak tangan manusia pada dinding-dinding gua yang dibubuhi dengan pigmen merah sebagai system symbol kepercayaan magis.

Gambar gambar telapak tangan tersebut oleh masyarakat primitive merupakan kepercayaan mereka terhadap kekuatan-kekuatan gaib/ magis. Secara magis masyarakat tersebut pada awalnya teknik rintang bertujuan untuk mengundang roh pelindung guna menolak roh jahat. Telapak tangan sebagai symbol penolak bala sedangkan pigmen merah dianggap symbol roh jahat. Anggapan bahwa dari tradisi pelukisan itulah yang oleh Soeharto dkk, sebagai asal muasal seni batik. Versi ini dikarenakan oleh teknik pelukisan di dinding gua tersebut menggunakan teknik rintang warna seperti pada seni batik.

Perkembangan seni ini belum ada yang meneliti secara detail bagaimana dari pelukisan di dinding gua sampai menjadi bahan sandang batik. Akan tetapi dapat dianalisa dan dijadikan pijakan bagaimana perkembangan seni batik yaitu dari pelukisan di dinding gua kemudian masyarakat primitive berkembang dan mengeksplorasi zat-zat pewarna alam. Masyarakat pedalaman memanfaatkan penemuannya tersebut bukan lagi pada pelukisan di gua melainkan mulai melakukan pelukisan di tubuh dengan istilah rajah (tattoo). Kemudian setelah peradapan manusia semakin maju masyarakat primitive pun mulai mengenal pakaian dan seni pewarnaan mulai masuk pada sandang.

Asumsi tersebut cukup masuk akal mengingat ada bukti-bukti bagaimana pewarnaan pada tubuh (body painting) sampai pada pelukisan dan pewarnaan pada sandang sampai sekarang masih ada. Kemudian oleh karena perkembangan peradapan manusia yang semakin maju maka batik atau teknik rintang warna mulai dikembangkan dan mengalami penyempurnaan-penyempurnaa

n. Penyebaran yang memungkinkan adalah perdagangan dan pada saat masyarakat pada fase masyarakat kerajaan. Dari sinilah akulturasi budaya berkembang dan mengalami pemodifikasian dari bentuk sedehana menjadi bentuk baru.

Pada teori di atas jelaslah bahwa batik merupakan peninggalan budaya manusia terutama pada system religi dan berkembang menjadi kesenian. Bukti-bukti yang menguatkan batik berasal dari Indonesia yang dimulai dari pedalaman Kalimantan yaitu; batik mulai menjadi budaya berkembang pesat pada jaman kerajaan dan di Indonesia kerajaan pertama kali tumbuh adalah Kutai di Kalimantan.

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


Di seluruh nusantara sepertinya budaya secara alamiah berkembang sesuai dengan bentuk dan geografis masing-masing. Keragaman tersebut merupakan sebuah local genius dimana peradapan manusia mengalami pencarian (eksplorasi) dan penemuan-penemuan baru. Batik merupakan hasil budaya yang bisa dikatakan hampir semua wilayah nusantara ada. Dalam arti Batik disini merubakan sebagai salah satu seni budaya yang mempunyai cirri seni perintang warna.

Melihat literature film tekstil yang dibuat oleh lembaga pendidikan seni nusantara audio visual tekstil edisi uji coba tahun 2004 bisa dilihat hampir teknik yang digunakan dari semple yang dipakai mempunyai kesamaan. Hanya saja yang membedakan pada alat perintangnya. Ada yang menggunakan tali, plastic, ada yang tali dari rotan dan sebagainya. Meskipun terdapat perbedaan alat akan tetapi secara subtansi semua memakai teknik perintangan warna (resist colore).

Mengingat sarana yang tersedia melimpah misalnya zat pewarna (nila, soga, dll) tumbuh-tumbuhan ini tumbuh subur di Indonesia khususnya dipulau jawa, dan tenaga menusia yang terampil juga telaten punya kepercayaan yang kuat begitu banyak, maka seni batik tumbuh berkembang dengan pesat, seirama dengan selera minat daerah masing-masing sehingga banyak beberapa daerah penghasil batik. Misalnya Indramayu, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Garut, Lasem, Jambi, Madura dan pulau-pulau lainnya.

Setiap daerah pembatikan mempunyai ciri kas dan keunikan masing-masing. Baik dalam ragam hias maupun tata warnanya dalam pertumbuhan dan perkembangan batik. Batik nusantara secara garis besar mempunyai keragaman yang itu dipengaruhi oleh beberapa factor :

  1. Letak Geografis
  2. Penghasil batik dari daerah pesisir berlainan dengan pedalaman/ Keraton. Daerah pesisir banyak dipengaruhi dari luar karena pedagang-pedagang luar negeri seringkali singgah untuk berdagang. Daerah keraton banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan kepercayaan yang ada.

  3. Sifat dan tata kehidupan daerah yang bersangkutan
  4. Masyarakat pesisir hampir setiap hari yang dilihat adalah warna biru laut dan hijau daun karena daerah geografisnya. Oleh karena setiap hari menghadapi pemandangan seperti itu maka ada rasa bosan kemudia mereka tuangkan dalam bentuk seni batik dengan nuansa warna-warni dan kontras yang beraneka ragam. Sebaliknya dengan batik keraton, karena mereka terbiasa dengan warna warni yang ada di taman maka mereka membuat klasik dan melihat warna kontras sebagai warna kasar (tidak miyayeni).

  5. Kepercayaan dan adat istiadat didaerah bersangkutan
  6. Di sini nampak bila pengaruh hindu jawa yang kuat maka ragam hias / motifnya banyak digambarkan dengan lambing-lambang secara simbolis. Misalnya; semen, lar, dll. Sedangkan pengaruh Islam yang kuat maka ragam hiasnya berisi tulisan arab/ kaligrafi

  7. Keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna
  8. Di daerah pesisir ragam hiasnya banyak menggambarkan; air, ikan, udang, dan tumbuh-tumbuhansecara naturalis.
    Didaerah keraton ragam hias banyak mengambarkan; gunung, kupu-kupu, burung, tumbuh-tumbuhan secara simbolis / distilir.

  9. Adanya kotak / hubungan antar daerah pembatikan
  10. Dengan adanya kontak / hubungan daerah pembatikan menimbulkan ragam hias yang baru (saling mempengaruhi)

  11. Pemujaan terhadap tokoh-tokoh kepahlawanan
  12. Batik solo/ yogyakarta dipengaruhi oleh tokoh-tokoh pewayangan. Misalnya Arjuna yang memberi simbul lemah lembut, halus dan percaya diri. Terlihat ragam hias batik solo/ yogyakarta kecil-kecil halus dan terdapat lengkungan / ukel berwarna harmoni hitam , biru, coklat dan krem/ putih.

Karena batik adalah hasil budaya luhur nenek moyang kita maka bukti hasil budaya itu bisa kita temukan diseluh kepulaun Indonesia terutama pada pakaian adat. Batik dapat di kategorikan menjadi 2 kelompok :

  1. Batik keraton
  2. Batik keraton adalah batik yang berkembang dilingkungan keraton dengan mengacu pada nilai-nilai falsafah jawa. Batik keraton terbatas pada coklat soga dan biru nila
    Batik keraton dipengaruhi oleh tata karma jawa (feodalisme)
    Ciri-ciri batik keraton :

    - Batik keraton bernuansa kontemplatis (perenungan/ religius magis), simetris, tertib, dan mengikuti pakem-pakem yang berlaku.

    - Batik keraton terbatas pada coklat soga dan biru nila

  3. Batik Pesisir
  4. Batik pesisir yaitu batik yang tumbuh berkembang diluar benteng keraton atau dikembangkan oleh rakyat jelata. Di jawa, perkembangan batik ini pada awalnya karena perang diponegoro yang mengalami kekalahan dengan belanda dan lari ke pesisir seperti pekalongan dan wilayah lainnya. Karena kepentingan hidup akirnya batik dikenalkan pada rakyat jelata yang tidak lagi memperhatikan aturan-aturan keraton.
    Ciri-ciri batik pesisir :

    - Tidak terikat dengan pakem-pakem

    - Corak, warna batik lebih bebas

    - Biasa di pakai sebagai bahan perdagangan (niaga)

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


Laweyan menjadi bagian dari sejarah batik surakarta oleh karena Batik di Surakarta secara histories ada sejak masa kerajaan-kerajaan jawa. Salah satu literature mlayadipura menjelaskan Pada abad ke 16 atau tepatnya 1555 M batik ada pada jaman kerajaan Pajang. Pada waktu pemerintahan pajang Batik berada di desa laweyan yang letaknya sebelah timur keraton Pajang. Desa laweyan ini pula tempat lahir dan dewasanya Raden Mas Sutowijoyo yang menjadi cikal bakal raja-raja mataram dengan sebutan R.M. lor ing Pasar.

Laweyan banyak terdapat situs-situs yang mendukung adanya salah satu pusat batik . Situs tersebut seperti Bandar kabanaran, nama tempat lor pasar (sekarang terdapat tugu batik) yang dulunya dipercaya sebagai pasar sandang batik, dan bukti sarana dan prasarana atau bekas-bekas tempat produksi batik. Nama desa laweyan sendiri mempunyai arti berasal dari kata Lawe yang mempunyai makna benang atau tali untuk membuat bahan sandang.

Pada masa kerajaan Suarakarta desa laweyan menjadi wilayah perdikan (otonom) dan sebagai desa penghasil juga pasar batik. Ada aturan yang dibuat pemerintahan keraton Surakarta mengenahi batik yaitu bahwa rakyat umum tidak diperbolehkan membuat batik dengan motif-motif keraton. Karena aturan tersebut laweyan khusunya para pengrajin membuat motif-motif tersendiri.

Pada masa pra kemerdekaan masyarakat laweyan ikut dalam mempelopori perlawanan terhadap colonial Belanda dengan mendirikan Serikat dangang Islam (SDI) pada tahun 1909. SDI bergerak dibidang ekonomi yang mencoba menyaingi perekonomian belanda, cina yang ada di Indonesia. Disini pedagang batik semua tergabung dalam organisasi SDI. Salah satu tokoh laweyan yang menjadi pelopor yaitu K.H Samanhudi yang diberi anugerah bintang satu oleh Presiden Soekarno.

Pada masa kemerdekaan desa laweyan masih menopang perekonomian dengan membuat batik. Karena hal tersebut laweyan ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya dan pariwisata oleh Pemerintah daerah surakarta pada tanggal 24 september 2004. Sejak pencanangan inilah laweyan bangkit kembali dan menobatkan dirinya menjadi kampoeng batik laweyan sebagai kawasan belanja sandang dan budaya. Oleh karena kepeloporan masuarakat laweyan tersebut empat tahun kemudian atau pada tahun 2008, laweyan mendapatkan anugerah dari presiden RI sebagai desa pelopor.

Sampai sekarang batik Laweyan menjadi salah satu penompang perekonomian surakarta yang cukup penting. Namun di Surakarta bukan hanya laweyan saja yang menjadi penghasil batik. Kauman, pasar kliwon, pajang, sondakan juga menjadi penghasil batik yang sampai sekarang tetap eksis

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


Perkembangan batik di Surakarta berkembang seiring dengan jaman mataram abat XVII. Namun belum ada data pasti bagaimana perkembangan batik khususnya di Surakarta. Literarur yang cukup penting adalah buku kalingggo (Pusat budaya keraton Surakarta) dan hasil penelitian P.de. Kat Angelino. Batik repport.Ded. II Midden java weltreveder lordsdru kdery : 1930 tentang batik Surakarta dan laweyan.

Dalam buku Kalinggo, masyarakat Solo mengenal batik dari istilah bahasa jawa jarwodhosok. Istilah ini merupakan kebiasaan orang jawa menghubung-hubungkan basa (kata). Menurut jarwodhosok batik yaitu dari kata “Ba” yang artinya Rambating dan “tik” yaitu titik. Jadi batik adalah rambating titik (berjalannya titik/ diawali dari titik)

Batik surakarta di bawa ke Yogyakarta

Di keraton surakarta sendiri batik mulai berkembang sejak PB X. yaitu Sabda Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta Hadiningrat

“Rum Kuncaraning Bangsa Dumunung Haning Luhuring Budaya”

Artinya : Harumnya nama dan tingginya derajad suatu bangsa terletak pada budayanya.

Kerajaan Surakarta adalah berawal dari pemberontakan Raden Mas Garendi putra Kanjeng Pangeran Teposono cucu dari SISKS Amangkurat emas. KP. Garendi berhasil merebut Kartosuro yang dibantu etnis Cina (Babad Pacinan) bergelar Amangkurat V atau Sunan Kuning.

Karena kekalahan ini Pakoe Boewono dari kartosuro pindah ke Ponorogo. Di ponorogo PB kemudian membangun kekuatan kembali dan mendapat batuan Belanda, untuk merebut kembali kerajaan Kartosuro. Kartosura dapat direbut kembali. Karena kondisi keraton sudah hancur, akhirnya Keraton pindah ke sebelah timur Kartosura. Sekarang dikenal dengan Keraton Surakarta.

Setelah kerajaan Surakarta dapat berdiri atas bantuan Belanda, Surakarta mempunyai perjanjian kekuasaan yang intinya memberatkan Keraton Surakarta. Yang dikenal babad Giyanti. Kekuasaan kerajaan Surakarta melemah karena banyak campur tangan Belanda. Melihat krisis politik tersebut Adik Pakoe Boewono II, Kanjeng Pangeran (KP) Mangkubumi (mangkunegaran) tidak senang dengan Belanda. Belanda selalu memata-matai keraton surakarta dengan membangun benteng Vetenberg sebelah utara/depan Keraton Surakarta.

K.P. Mangkubumi meninggalkan Keraton Surakarta untuk bergabung dengan pasukan tentara Pangeran Samber Nyawa atau Pangeran Mangkunegara untuk memerangi Surakarta dan Belanda. Pangeran Pakoe Boewono Wafat karena sakit tgl 20 November 1749. Tahta turun pada Putra Pakoe Boewono yang bergelar K.P. Aryo Adipati Anom Hamengkunagoro Sudibyo Raja Putra Narendra Ing Mataram.
Kompeni Belanda beberapa lamanya tidak berhasil menghentikan pemberontakan K.P Mangkubumi dan tentara KP. Samber Nyawa. Akhirnya Belanda dengan Gubernur Hogen Dorf mengajak berunding dan disepakati Mataram dibagi menjadi dua. Satu di bawah kekuasaan SISKS Pakoe Boewona II yang membawahi Surakarta dan kedua, Ngayogjokarto di bawah K.P. Mangkubumi. Perundingan ini dikenal dengan perundingan Giyanti (babad Giyanti).

Kaitannya dengan busana batik pada waktu perpindahan atau kesepakatan giyanti antara Belanda dan Kerajaan Surakarta, maka segala perabot keraton akan dibagi menjadi dua. Semua Isen-isen Keprabon yang berupa Pusaka, Gamelan, Titihan Kereta, Tandu/ joli/ kremun, Busana Batik juga dikehendaki K.P. Mangkubumi yang menempati kekuasaan di yogyakarta.
Wasiat Pakoe Boewono II kepada Pakoe Boewono III, sebelum diangkat menjadi Raja

“Mbesok menawa pamanmu Mangkubumi hangersakake ageman, parengna.”

Artinya : Apabila kelak pamanmu menghendaki busana, berikan saja. Maka sejak itu busana batik Surakarta dibawa ke Yogyakarta.

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


  1. Batik Parangrusak
  2. Batik ini dipakai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA), Pangeran Putra, Pangeran Sentono, dan Sentonodalem yang berpangkat Bupati Riya Nginggil yang bergelar KRMH.

  3. Bathik Udan Liris
  4. Motif batik ini di pakai oleh pepatihdalem, apabila patih tersebut masih menantu dalem.

  5. Batik Rejeng
  6. Batik rejeng dikenakan oleh para komandan prajurit seperti para kolonel kumedhan, litnan kronel (letnan kolonel), mayor, serta abdidalem gandek yang menjadi utusan Ingkang Sinuhun.

  7. Batik Tambal Kanoman
  8. Batikan kampuh/dodotan para bupati, bupati anom dan para juru tulis kantor.

  9. Batik Semen Latar Putih
  10. Batik ini dipakai oleh abdidalem yang berpangkat bupati, bupati anom dan bupati anom luar.

  11. Batik Padas Gempal
  12. Batil padhas Gempal dipakai oleh abdidalem yang berpangkat Panewu/Mantri dari golongan Sorogeni (prajurit Sorogeni, yang berserqagam merah) ke bawah.

  13. Batik Medhangan
  14. Motif batik medhangan dipakai oleh para panewu/mantri ke bawah dari golongan sangkragnyana.

  15. Batik Kumitir
  16. Motif ini digunakan oleh para abdidalem Panewu/mantri ke bawah dari golongan kanoman.

  17. Batik Tambal Miring
  18. Batik ini dipakai oleh para abdidalem Panewu/mantri dari golongan juru tulis.

  19. Batik Jamblang
  20. Motif yang dipakai abdidalem panewu/mantri kebawah dari golongan adipati anom.

  21. Batik Ayam Puser
  22. Motif yang dipakai oleh para abdidalem panewu/mantri kebawah dari golongan yogeswara atau suranata atau abdidalem ulama.

  23. Batik Slobong
  24. Motif yang digunakan oleh para abdidalem panewu/mantri kebawah dari golongan niyogo (penabuh gamelan).

  25. Batik Wora-Wari Rumpuk
  26. Motif yang digunakan oleh para abdidalem panewu/mantri ke bawah dari golongan pangrehpraja atau yang membawahi wilayah.

  27. Batik Krambil Secukit
  28. Motif yang dipakai oleh para abdidalem panewu/mantri kebawah yang di bawah perintah kepatihan.

  29. Kain Lurik Perkutut
  30. Merupakan kain yang digunakan abdidalem berpangkat Jajar Priyantaka.

  31. Kain Sindur
  32. Kain yang dipakai oleh abdidalem Krisdastawa atau Canthangbalung.

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/


BATIK DENGAN MOTIF SEMEN

1. Batik Semen Semen Rama (masa Pakoe Boewono IV)

Motif mengacu pada Wejangan Prabu Ramawijaya kepada R. Wibisono, adik Dasamuka dari Alengko. Dengan ajaran Hasta Broto yang intinya ajaran :

  1. Kemakmuran (dilambangkan dengan bentuk tumbuhan atau hayat)
  2. Melindungi bumi, (dilambangkan dengan motif Gunung)
  3. Adil, keteguhan hati, keluhuran (dilambangkan dalam bentuk gambar garuda, kedudukan dilambangkan iber-iber/burung)
  4. Kedudukan tinggi, kesaktian (dilambangkan dengan api)
  5. Pemaaf (dilambangkan dalam bentuk naga)
  6. Motif ini hanya dikenakan oleh Raja, Pangeran dan kerabat Raja saja

2. Batik Semen Gendhong (masa Pakoe Boewono IX, akhir abad XIX)

Nama Gendhong artinya mengangkat atau menjunjung. Lambang atau gambaran gedhong adalah supaya bisa mengangkat tinggi derajat keluarganya. Batik Gendhong bisa dipakai untuk acara apa saja dan dapat digunakan semua golongan.

3. Batik Semen Prabu

Semen-Prabu dikonotasikan dengan kedudukan tinggi atau kedudukan seseorang. Suatu permohonan untuk mencapai “Kalenggahan Luhur” yang bisa, memberikan pengayoman dalam kehidupannya. Batik ini dapat dipakai siapa saja, tergolong batik tengahan. Batik ini termasuk Semen latar hitam.

4. Batik Semen Wijaya Kusuma

Dinamakan Wijaya Kusuma adalah mengambil salah satu nama bunga pusaka milik Prabu Kresno dalam pewayangan. Maknanya suatu keindahan seperti bunga, yang mengandung daya perbawa sebagai lambang “panguriban”. Tujuannya supaya diberi kehidupan yang indah atau kehidupan yang mencukupi dan disegani di dalam masyarakat.

Batik Wijaya Kusuma termasuk Batik Semen latar putih.

BATIK DENGAN MOTIF CEPLOKAN

1. Batik Ceplokan (Sekuntum/ biasa dengan bentuk satuan bunga)

Pada zaman kerajaan Mataram Sultan Agung abad ke-XVII sampai Mataram Kartosura abad XVIII motif Ceplokan sudah berkembang dan digunakan oleh Keraton dan masyarakat umum. Adapun motif-motif batik ceplokan adalah:
Macam macam Batik Ceplokan :

2. Batik Ceplok Sriwedari

Pada prinsipnya batik motif Ceplok Sriwedari sama dengan batik Ceplok Lung Slop, hanya motif ukel diganti dengan isen-isen parangan. Dalam 1 raport kotak berisi lung dan lainnya berisi motif parangan.

Nama Sriwedari memlambangkan suatu pertamanan yang indah dan menarik. Artinya bisa sebagai perlambang memikat hati untuk menghilangkan kejenuhan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Batik Satria Wibawa

Jenis batik Ceplokan segi-empat dengan titik pusat ditengah, dalam ajaran Jawa dimasukkan dalam konsep kekuasaan yang melambangkan Raja. Satria Wibawa sudah menunjukkan kewibawaan, wataknya menep bijaksana.

BATIK KAWUNG

Kawung diambil dari nama pohon kolang-kaling (buahnya). Artinya dalam kaweruh Jawi melambangkan ajaran sangkan paraning dumadhi. Atau ajaran terjadinya kehidupan manusia menurut Kejawen. Sedulur papat lima pancer.

Pada awal Surakarta batik Kawung dipakai untuk kerabat Raja saja. Setelah mataram terbagi menjadi dua (Yogjakarta dan Surakarta) batik ini digunakan orang yang berbeda. Di Surakarta dikenakan kerabat Ponokawan (dalam pewayangan/abdi dalem). Sedangkan di Yogyakarta digunakan oleh abdi Sentana Ndhalem.

Batik Kawung yang diambil dari ornamen buah pohon kolang-kaling mempunyai nilai filosofis mengisyaratkan supaya eling (ingat) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa jenis Batik Kawung adalah Kawung Picis (diambil dari nama uang 10 sen), batik Kawung Bribil (uang pecahan 25 sen) dan batik kawung sen (uang pecahan 1 sen).

BATIK PARANG DAN LERENG

Batik Parang dan Lereng bagi keraton Surakarta sebagai ageman luhur, artinya hanya di pakai oleh Agemandhalem Sinuhun dan Putra Sentanadalem saja, bagi abdi menjadi larangan.

Parang ada yang berpendapat senjata tajam yang berupa parang atau sejenisnya. Pengertian ini disebut “wantah”. Berdasarkan pertimbangan data, kata parang adalah perubahan dari kata pereng atau pineggiran suatu tebing yang berbentuk lereng (diagonal). Mengambil gambaran pesisir pantai Jawa; Paranggupito, parangkusumo, dan Parangtritis dll.

Tempat tersebut menjadi tempat penting karena erat kaitannya dengan keberadaan Ingkang Sinuhun Panembahan Senopati Kerajaan Mataram, setalah pindahnya pusat pemerintahan Jawa dari Demak ke Mataram. Tempat tersebut merupakan tempat “teteki” atau bertapa raja Mataram pertama yang mengilhami batik lereng pertama. Juga laku teteki atau bertapanya Panempahan Senopati dari Parangkusumo melewati pesisir pantai selatan menuju Dlepih Paranggupito, menelusuri tebing gunung Sewu.

Ciri-ciri Batik Parang :

  1. Bentuknya Lereng diagonal 45 0
  2. Memakai mlinjon
  3. Memakai sujen
  4. Ada mata gareng

Ciri Batik Lereng :

  1. Bentuknya miring diagonal 45 0
  2. Tidak selalu memakai mlinjon, sujen dan mata gareng
  3. Hanya dibatasi garis lurus

Bisa memakai motif lung-lungan atau diseling bentuk parangan yang disebut glebangan. Kedua motif batik ini sudah ada sebelum berdirinya Kerajaan Mataram – Kartosuro (Parang rusak, parang barong, barang pamor, parang rusak barong, parang kusumo, parang klitik).

Parang kusumo adalah bunga, yang dinamakan darahing-ratu atau disebut darah dalem. Sesuai namanya parang kusumo hanya dipakai oleh darah dalem pancer Ingkang Sinuhun Pangeran turun temurun.

Untuk batik Lereng yang sudah dikenal antara lain lereng glebangan, lereng thathit, lereng sobrah. Batik Parang maupun lereng juga diperlambangkan sebagai lambang kesucian dan kekuatan seperti Tuhan.

Karena parang mempunyai konotasi yang sadis (sebuah sejata), maka hanya orangang tertentu yang mampu memakainya, artinya meraka yang dapat menghilangkan kekuatan magis dari parang tersebut. Maka, hanya raja dan keturunannya saja yang mampu menghilangkan konotasi sadis.

Batikan Kampuh Dan Kepangkatan

Pada zaman Mataram yang diperintah oleh sultan Agung motif batik sudah mengalami perkembangan namum belum begitu pesat. Baru pemerintah Mataram, Surakarta Pakoe Boewana IV perkembangan motif batik semakin pesat. Hal ini karena pada masa Pakoe Boewana IV setiap golongan dalam keraton dibuatkan motif sendiri-sendiri. Kemudian semakin berkembang pesat di bawah Pemerintahan Pakoe Boewono X.

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.