SEJARAH BATIK LAWEYAN

Laweyan mulai tumbuh sebagai pusat perdagangan kerajaan Pajang pada tahun 1500-an dengan sandang sebagai komoditas utamanya. Sebutan Laweyan sendiri berasal dari kata “LAWE”, yang artinya benang yang berasal dari pilinan kapas. Saat itu, lawe banyak dihasilkan oleh petani didaerah Pedan, Juwiring dan Gawok. Daerah-daerah ini terletak di sebelah selatan Kerajaan Pajang.

Lahirnya Laweyan juga tidak bisa lepas dari peran seorang tokoh yang bernama Ki Ageng Henis. Tak hanya mengajarkan ilmu agama, beliau juga mengajarkan seni batik kepada santri-santrinya. Perkembangan daerah Laweyan saat itu juga didukung oleh keberadaan Bandar Kabanaran, yang berada di sungai Jenes. Sungai Jenes terhubung dengan sungai Bengawan Solo yang bermuara di Pantai Utara Jawa, sehingga menjadikannya sebagai jalur strategis untuk perdagangan saat itu.

Disebelah utara pasar Laweyan bermukim cucu Ki Ageng Henis dari putranya , Ki Ageng Pemanahan, yang bernama Sutowijoyo. Sutowijoyo kemudian dikenal dengan sebutan Raden Mas Ngabehi Loring Pasar. Ia berjasa menumpas pemberontakan di kerajaan Pajang yang dipimpin oleh Adipati Jipang, Aryo Penangsang. Raja Pajang masa itu, Sultan Hadiwijoyo, memberinya hadiah sebidang tanah di Alas Mentaok (yang kemudian menjadi Kotagede).

Di Alas Mentaok inilah kerajaan Mataram Islam berdiri dengan Sutowijoyo sebagai rajanya yang pertama bergelar Panembahan Senopati. Pada tahun 1745, lahir kerajaan Surakarta Hadinigrat di Solo. Seiring dengan perkembangan Solo sebagai pusat kerajaan, popularitas Laweyan mulai menurun. Bandar Kabanaran mulai kehilangan fungsi setelah transportasi beralih memakai jalan dan kereta api.

Laweyan kembali memperoleh kejayaan pada abad ke-20 ketika industri batik tumbuh pesat hingga melahirkan para saudagar yang kekayaannya melebihi kaum bangsawan keraton. Kaum saudagar ini tidak hanya mapan secara ekonomi namun juga secara politik. Ini di buktikan dengan didirikannya Sarekat Dagang Islam sekitar tahun 1911 oleh seorang saudagar batik bernama KH. Samanhudi.

Pada perkembangannya, Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarikat Islam yang kemudian ikut aktif membantu pergerakan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Para saudagar batik Laweyan juga merupakan perintis pergerakan koperasi dengan didirikannya “Persatoean Peroesahaan Batik Boemipoetra Soerakarta (PPBBS) pada tahun 1935.

Pada awal tahun 1970-an industri batik tulis dan cap surut oleh perkembangan teknologi modern yang melahirkan industri batik printing. Kondisi ini berlangsung hingga beberapa dekade. Memasuki tahun 1990-an industri batik Laweyan kian memprihatinkan. Tak ingin Laweyan tenggelam diterpa jaman, maka pada tanggal 25 September 2004, atas prakarsa masyarakat laweyan dan Solo, pemerintah meresmikan Laweyan sebagai Kampoeng Batik dan menjadikannya sebagai daerah tujuan wisata di Kota Solo.

Laweyan bertumpu pada industri batik, industri non batik, situs bersejarah, arsitektur khas, lingkungan alam serta kehidupan sosial budaya. Hal ini menjadikan Kampoeng Batik Laweyan sebagai “Central Batik and Heritage of Java”.

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/