Pada zaman dahulu, pembuatan batik yang pada tahap pembatikannya hanya dikerjakan oleh putri-putri dilingkungan kraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa dengan dilandasi permohonan, petunjuk, dan Rido Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya ragam hias wastra batik senantiasa menyembulkan keindahan abadi dan mengandung nilai-nilai perlambang yang berkait erat dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, dan penghargaan yang dimilikinya.

Dalam Forum “Roundtable On Museum Textile” di Washington D.C. pada tahun 1979, K.P.T Hardjonagoro mengisahkan proses penciptaan ragam hias truntum karya Kanjeng Ratu Beruk, permaisuri Sri Susuhunan Paku Buwono III. Dalam kesedihan dan keprihatinan yang sangat dalam karena tidak lagi memperoleh cinta kasih Sri Baginda, Kanjeng Ratu Beruk menciptakan suatu pola batik dengan disertai doa dan permohonan rahmat kepada Sang Pencipta agar Sri Baginda kembali mencintainya. Doa Permaisuri terkabul. Pada suatu hari Sri Susuhunan hadir ditempat permaisuri membatik. Kehadiran Sri Baginda ternyata diikuti oleh kehadiran Sri Baginda pada hari-hari berikutnya. Setelah menyaksikan hasil akhir wastra batik karya permaisuri, Sri Baginda memanggil Kanjeng Ratu Beruk kembali ke Istana. Permaisuri mengabadikan peristiwa “kembali tumbuhnya cinta kasih Sri Baginda” dan “kembali berkumpulnya Sri Baginda-Permaisuri” dangan memberi nama truntum pada ragam hias batik karyanya yang memang belum diberi nama itu. secara harafiah truntum berarti timbul atau berkumpul.

* Sumber : Buku “Batik Pengaruh zaman dan lingkungan”Penerbit Danar Hadi.Penulis H.Santosa Doellah

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/