Laweyan menjadi bagian dari sejarah batik surakarta oleh karena Batik di Surakarta secara histories ada sejak masa kerajaan-kerajaan jawa. Salah satu literature mlayadipura menjelaskan Pada abad ke 16 atau tepatnya 1555 M batik ada pada jaman kerajaan Pajang. Pada waktu pemerintahan pajang Batik berada di desa laweyan yang letaknya sebelah timur keraton Pajang. Desa laweyan ini pula tempat lahir dan dewasanya Raden Mas Sutowijoyo yang menjadi cikal bakal raja-raja mataram dengan sebutan R.M. lor ing Pasar.

Laweyan banyak terdapat situs-situs yang mendukung adanya salah satu pusat batik . Situs tersebut seperti Bandar kabanaran, nama tempat lor pasar (sekarang terdapat tugu batik) yang dulunya dipercaya sebagai pasar sandang batik, dan bukti sarana dan prasarana atau bekas-bekas tempat produksi batik. Nama desa laweyan sendiri mempunyai arti berasal dari kata Lawe yang mempunyai makna benang atau tali untuk membuat bahan sandang.

Pada masa kerajaan Suarakarta desa laweyan menjadi wilayah perdikan (otonom) dan sebagai desa penghasil juga pasar batik. Ada aturan yang dibuat pemerintahan keraton Surakarta mengenahi batik yaitu bahwa rakyat umum tidak diperbolehkan membuat batik dengan motif-motif keraton. Karena aturan tersebut laweyan khusunya para pengrajin membuat motif-motif tersendiri.

Pada masa pra kemerdekaan masyarakat laweyan ikut dalam mempelopori perlawanan terhadap colonial Belanda dengan mendirikan Serikat dangang Islam (SDI) pada tahun 1909. SDI bergerak dibidang ekonomi yang mencoba menyaingi perekonomian belanda, cina yang ada di Indonesia. Disini pedagang batik semua tergabung dalam organisasi SDI. Salah satu tokoh laweyan yang menjadi pelopor yaitu K.H Samanhudi yang diberi anugerah bintang satu oleh Presiden Soekarno.

Pada masa kemerdekaan desa laweyan masih menopang perekonomian dengan membuat batik. Karena hal tersebut laweyan ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya dan pariwisata oleh Pemerintah daerah surakarta pada tanggal 24 september 2004. Sejak pencanangan inilah laweyan bangkit kembali dan menobatkan dirinya menjadi kampoeng batik laweyan sebagai kawasan belanja sandang dan budaya. Oleh karena kepeloporan masuarakat laweyan tersebut empat tahun kemudian atau pada tahun 2008, laweyan mendapatkan anugerah dari presiden RI sebagai desa pelopor.

Sampai sekarang batik Laweyan menjadi salah satu penompang perekonomian surakarta yang cukup penting. Namun di Surakarta bukan hanya laweyan saja yang menjadi penghasil batik. Kauman, pasar kliwon, pajang, sondakan juga menjadi penghasil batik yang sampai sekarang tetap eksis

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/