Di seluruh nusantara sepertinya budaya secara alamiah berkembang sesuai dengan bentuk dan geografis masing-masing. Keragaman tersebut merupakan sebuah local genius dimana peradapan manusia mengalami pencarian (eksplorasi) dan penemuan-penemuan baru. Batik merupakan hasil budaya yang bisa dikatakan hampir semua wilayah nusantara ada. Dalam arti Batik disini merubakan sebagai salah satu seni budaya yang mempunyai cirri seni perintang warna.

Melihat literature film tekstil yang dibuat oleh lembaga pendidikan seni nusantara audio visual tekstil edisi uji coba tahun 2004 bisa dilihat hampir teknik yang digunakan dari semple yang dipakai mempunyai kesamaan. Hanya saja yang membedakan pada alat perintangnya. Ada yang menggunakan tali, plastic, ada yang tali dari rotan dan sebagainya. Meskipun terdapat perbedaan alat akan tetapi secara subtansi semua memakai teknik perintangan warna (resist colore).

Mengingat sarana yang tersedia melimpah misalnya zat pewarna (nila, soga, dll) tumbuh-tumbuhan ini tumbuh subur di Indonesia khususnya dipulau jawa, dan tenaga menusia yang terampil juga telaten punya kepercayaan yang kuat begitu banyak, maka seni batik tumbuh berkembang dengan pesat, seirama dengan selera minat daerah masing-masing sehingga banyak beberapa daerah penghasil batik. Misalnya Indramayu, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Garut, Lasem, Jambi, Madura dan pulau-pulau lainnya.

Setiap daerah pembatikan mempunyai ciri kas dan keunikan masing-masing. Baik dalam ragam hias maupun tata warnanya dalam pertumbuhan dan perkembangan batik. Batik nusantara secara garis besar mempunyai keragaman yang itu dipengaruhi oleh beberapa factor :

  1. Letak Geografis
  2. Penghasil batik dari daerah pesisir berlainan dengan pedalaman/ Keraton. Daerah pesisir banyak dipengaruhi dari luar karena pedagang-pedagang luar negeri seringkali singgah untuk berdagang. Daerah keraton banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan kepercayaan yang ada.

  3. Sifat dan tata kehidupan daerah yang bersangkutan
  4. Masyarakat pesisir hampir setiap hari yang dilihat adalah warna biru laut dan hijau daun karena daerah geografisnya. Oleh karena setiap hari menghadapi pemandangan seperti itu maka ada rasa bosan kemudia mereka tuangkan dalam bentuk seni batik dengan nuansa warna-warni dan kontras yang beraneka ragam. Sebaliknya dengan batik keraton, karena mereka terbiasa dengan warna warni yang ada di taman maka mereka membuat klasik dan melihat warna kontras sebagai warna kasar (tidak miyayeni).

  5. Kepercayaan dan adat istiadat didaerah bersangkutan
  6. Di sini nampak bila pengaruh hindu jawa yang kuat maka ragam hias / motifnya banyak digambarkan dengan lambing-lambang secara simbolis. Misalnya; semen, lar, dll. Sedangkan pengaruh Islam yang kuat maka ragam hiasnya berisi tulisan arab/ kaligrafi

  7. Keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna
  8. Di daerah pesisir ragam hiasnya banyak menggambarkan; air, ikan, udang, dan tumbuh-tumbuhansecara naturalis.
    Didaerah keraton ragam hias banyak mengambarkan; gunung, kupu-kupu, burung, tumbuh-tumbuhan secara simbolis / distilir.

  9. Adanya kotak / hubungan antar daerah pembatikan
  10. Dengan adanya kontak / hubungan daerah pembatikan menimbulkan ragam hias yang baru (saling mempengaruhi)

  11. Pemujaan terhadap tokoh-tokoh kepahlawanan
  12. Batik solo/ yogyakarta dipengaruhi oleh tokoh-tokoh pewayangan. Misalnya Arjuna yang memberi simbul lemah lembut, halus dan percaya diri. Terlihat ragam hias batik solo/ yogyakarta kecil-kecil halus dan terdapat lengkungan / ukel berwarna harmoni hitam , biru, coklat dan krem/ putih.

Karena batik adalah hasil budaya luhur nenek moyang kita maka bukti hasil budaya itu bisa kita temukan diseluh kepulaun Indonesia terutama pada pakaian adat. Batik dapat di kategorikan menjadi 2 kelompok :

  1. Batik keraton
  2. Batik keraton adalah batik yang berkembang dilingkungan keraton dengan mengacu pada nilai-nilai falsafah jawa. Batik keraton terbatas pada coklat soga dan biru nila
    Batik keraton dipengaruhi oleh tata karma jawa (feodalisme)
    Ciri-ciri batik keraton :

    – Batik keraton bernuansa kontemplatis (perenungan/ religius magis), simetris, tertib, dan mengikuti pakem-pakem yang berlaku.

    – Batik keraton terbatas pada coklat soga dan biru nila

  3. Batik Pesisir
  4. Batik pesisir yaitu batik yang tumbuh berkembang diluar benteng keraton atau dikembangkan oleh rakyat jelata. Di jawa, perkembangan batik ini pada awalnya karena perang diponegoro yang mengalami kekalahan dengan belanda dan lari ke pesisir seperti pekalongan dan wilayah lainnya. Karena kepentingan hidup akirnya batik dikenalkan pada rakyat jelata yang tidak lagi memperhatikan aturan-aturan keraton.
    Ciri-ciri batik pesisir :

    – Tidak terikat dengan pakem-pakem

    – Corak, warna batik lebih bebas

    – Biasa di pakai sebagai bahan perdagangan (niaga)

Literature :

  1. Mlayadipura, 1950. Desa laweyan.
  2. KRT. DR. (HC) Kalinggo Honggopuro. 2002. Batik sebagai busana dalam tatanan dan Tuntunan. Yayasan Peduli Keraton Surakarta Hadiningrat. Surakarta.
  3. H. M. Soeharto bersama Tim. Indonesia Indah Ke-8. 1997. “Batik”. Yayasan Harapan Kita / BP-3 TMII. Jakarta.
  4. P. De. Kat Anggelo. Laporan tentang batik (Inspektor pada Kantor Buruh) Bagian II Jawa Tengah. 1930

* Copyright © 2010. Doc.BATIK PUTRA LAWEYAN
Website : http://www.putra-laweyan.co.id/